Rabu, 04 Oktober 2006

PRODUK ALAS KAKI INDONESIA: ANCAMAN CHINA DAN STAGNASI PRODUKSI

(Tinjauan Ekonmi Media Indonesia 2 Oktober 2006)

Kinerja ekspor bisa menjadi gambaran kondisi industri domestik. Jika ditarik ke belakang lagi dapat menjadi kesimpulan tentang kondisi investasi. Tentu saja secara umum menjadi kisah tentang kiprah Indonesia dalam persaingan global. Indonesia memiliki banyak komoditas yang memiliki potensi sebagai pendongkrak pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain juga memiliki sejumput masalah.
Dalam tinjauan ekonomi Media Indonesia (18/9), telah ditunjukan produk-produk apa saja yang menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia. Namun pada saat yang bersamaan, setidaknya dibandingkan tahun 2004 juga ada 14 komoditas yang justru mengalami penurunan tingkat daya saing mulai tahun 2005.
Ancaman China
Diantara komoditas-komoditas yang mengalami penurunan daya saing tersebut salah satunya adalah produk alas kaki. Merujuk kembali pada hasil perhitungan Revealed Competitive Advantage (RCA) yang dilakukan oleh Institut Riset Sosial dan Ekonomi (Inrise) bersama Litbang Media Group(2006), menunjukan bahwa seluruh produk alas kaki dan turunannya dari Indonesia mengalami penurunan.
Khusus mengenai persaingannya dengan produk-produk serupa negara lainnya, produk-produk yang dihasilkan oleh Indonesia sempat terjadi penurunan tajam pada tahun 2002 senilai US$ 1,148 miliar dari tahun 2001 yang senilai US$ 1,505 miliar. Meski data Comtrade menunjukan bahwa semenjak tahun 2002-2005 terjadi trend yang meningkat, namun nilai ekspor hingga pada 2005 belum bisa mencapai perolehan ekspor tahun 2000 sebesar US$ 1,67 miliar.
Mencermati berbagai macam produk alas kaki yang ada, ekspor terbesar produk alas kaki Indonesia adalah alas kaki yang terbuat dari kulit (HS 6403). Dimana di dalamnya termasuk pula produk-produk sepatu/ alas kaki formal. Pada tahun 2005 komposisi ekspornya terhadap keseluruhan ekspor alas kaki mencapai 64%, dengan nilai sebesar US$ 909,9 juta. Ekspor terbesar ditujukan ke pasar Amerika Serikat yang mencapai US$ 350,2 juta atau 36%.
Sementara yang terkecil adalah produk alas kaki tahan air dari karet atau plastik. Komposisi ekspornya terhadap keseluruhan ekspor alas kaki tidak lebih dari 0,3% atau senilai US$ 4 juta. Komoditas ini terbesar diekspor ke Australia. Nilai ekspornya mencapai US$ 1,1 juta atau 27,8% dari total ekspor Indonesia ke dunia. Namun secara umum, negara tujuan ekspor alas kaki (HS 64) terbesar ditujukan Amerika Serikat, dimana komposisinya mencapai 33,1%.
Sementara pada periode yang sama, komposisi impor alas kaki terbesar Indonesia hingga tahun 2005 adalah bagian-bagian alas kaki, sol, bantalan tumit, pelindung dan lain-lain (HS 6406). Nilai impornya mencapai US$ 27,2 juta atau 64% dari total nilai impor alas kaki. Nilai impor terkecil yang dilakukan untuk produk alas kaki adalah alas kaki anti air dari karet dan plastik jenis Wellingtons. Impor produk ini pada tahun 2005 hanya sebesar US$ 2,5 juta atau 4,3% dari keseluruhan nilai impor alas kaki Indonesia.
Indonesia sendiri sebagian besar impornya berasal dari China. Tahun 2005 saja, hampir 57% impor alas kaki berasal dari China. Dimana sebagian besar juga berupa berupa bagian-bagian alas kaki, sol, bantalan tumit, pelindung dan lain-lain. Dari total nilai impor alas kaki dari China, impor produk-produk tersebut untuk tahun 2005 mencapai US$ 8,7 juta atau 25,7%.
Dalam beberapa tahun terakhir, produk-produk China memang merajai perdagangan alas kaki internasional. Sepanjang tahun 2002-2005 total nilai ekspor alas kaki negeri itu sudah mencapai US$ 58,3 milyar. Nilai tersebut sama dengan 27,3% dari keseluruhan nilai ekspor alas kaki dunia. Sebagian besar ekspor alas kaki China juga ditujukan ke Amerika Serikat, yaitu sekitar 36% dari keseluruhan ekspor alas kaki China ke dunia.
Stagnasi
Rendahnya tingkat upah yang terjadi di China hingga saat ini memang masih menjadi salah satu keunggulan industri sepatu di negara tersebut. Akibatnya, biaya produksi menjadi rendah sehingga dapat menekan harga jual. Sebaliknya, industri alas kaki Indonesia seperti beberapa sektor industri manufaktur lainnya, kondisinya saat ini memang tengah dihadapkan pada berbagai persoalan pengembangan. Mulai dari melemahnya daya beli domestik, kenaikan biaya produksi, hingga penyelundupan sepatu dari China maupun Vietnam. Namun demikian khusus bagi industri sepatu, persoalan perburuhan juga masih menjadi kendala utama investasi di bidang ini. Akibatnya, stagnasi produksi menjadi semakin tidak terhindarkan.
Berbagai kondisi tersebut pada akhirnya tentu menyebabkan banyak industri sepatu dan alas kaki domestik yang mesti mengurangi produksinya bahkan mengalami kebangkrutan. Data dari Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menyebutkan bahwa dari 107 perusahaan anggotanya di tahun 2003, maka tahun 2005 jumlahnya tinggal 98 unit. Tahun 2004 saja, tercatat ada empat perusahaan produsen sepatu besar yang juga harus tutup. Keempat perusahaan tersebut yaitu PT Truba Raya Trading yang memproduksi sepatu merek Fila, PT Kasogi International Tbk produsen merek Kasogi, serta PT Eltri Indo Footwear dan PT Golden Adhishoes. Dua perusahaan terakhir ini masing-masing adalah produsen sepatu untuk merek Nike dan Reebok.
Masalah-masalah seperti inilah yang pada akhirnya juga berdampak pada menurunnya kinerja ekspor serta kemampuan daya saing. Padahal pada waktu yang bersamaan, persaingan di pasar internasional juga semakin ketat. Dengan China sendiri, sebenarnya Indonesia untuk jenis sepatu oleh raga (sport shoes) memang sudah kalah bersaing. Meski demikian, harapan untuk mengembangkan industri sepatu di Indonesia masih terbuka untuk jenis sepatu non sports atau sepatu formal. Hal ini disebabkan masih relatif rendahnya modal yang dibutuhkan, banyaknya tenaga kerja serta ketersediaan bahan baku terutama kulit dari dalam negeri.
Peningkatan penetrasi produk sepatu China terutama ke pasar AS dan stagnasi produksi di Indonesia, ternyata juga menimbulkan persoalan baru. Kebijakan proteksi yang diberlakukan oleh pemerintah AS dengan menetapkan biaya yang tinggi untuk produk-produk asal China serta tuduhan praktek dumping, telah mendorong terjadinya praktek jual beli dokumen ekspor. Terutama adalah surat keterangan asal (SKA). Penggunaan SKA Indonesia untuk masuk ke pasar AS oleh para pengusaha China memang sangat “menguntungkan”. Bagi pengusaha China hal tersebut tentunya akan mempermudah masuknya barang-barang mereka ke AS. Sementara bagi pengusaha domestik, praktek-praktek semacam ini jelas adalah kesempatan untuk bisa mendapatkan keuntungan lebih tanpa harus bersusah payah bekerja memenuhi pesanan terlebih dahulu.
Berbagai persoalan seperti tersebut di atas, tentu pada akhirnya hanya akan makin menurunkan daya saing produk-produk alas kaki Indonesia di pasar internasional. Jika kini ada komitmen baru dari Adidas untuk merelokasi 20 persen kapasitas produksinya dari Cina ke Indonesia dan Vietnam, maka pada satu sisi hal tersebut memang memberikan harapan baru bagi peningkatan produksi sepatu -terutama sport shoes- domestik. Begitu pula dengan pemberian fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) dari Uni Eropa, sehingga lebih memudahkan produk Indonesia masuk ke pasar Eropa.
Di sisi lain, konsistensi pembenahan iklim investasi, pemberantasan penyelundupan serta penyelesaian persoalan perburuhan menjadi aspek penting untuk kembali meningkatkan daya saing produk alas kaki dan sepatu Indonesia. Kalau tidak, bukan tidak mungkin penurunan daya saing akan berlanjut di tahun 2006 ini. (Nugroho Pratomo & Radi Negara: Peneliti Ekonomi Litbang Media Group)

Tidak ada komentar: